Langsung ke konten utama

Diary 1 Desember 2015 (Part 2)



Pertemuan singkatku dengan Seongjae ku anggap sebagai hal yang tak terlalu penting untukku. Setahun kemudian aku datang lagi ke Korea. Agensi musik Kang Junu menyukai gaya bermusik ku. Tahun ini pun aku diminta datang kembali untuk sebuah project yang sedikit lebih besar dari sebelumnya. Kali ini tidak ada yang menjemputku karena aku merasa sudah tau jalan kesana dan aku juga ingin jalan-jalan sebentar.
Ku telusuri jalan-jalan di pusat kota Seoul. Sebenarnya tujuanku hanya satu. Membeli CD asli beberapa artis idolaku. Apakah aku berlebihan? Tidak. Bagi pencinta musik membeli CD asli adalah suatu keharusan.
Ku masuki salah satu toko CD yang menurut info dari Yoomi adalah yang terlengkap di Seoul. Saat aku tengah mencari album lawas TVXQ, seseorang tiba-tiba memanggilku.
“Khanza-shi?”
Aku sedikit terkejut mendengarnya. Saat ku melihatnya, aku merasa mengenal dirinya tapi aku lupa dimana aku pernah bertemu dengannya.
“Kita pernah bertemu di bandara.”
“Seongjae-shi?”
“Senang bertemu dengan Anda lagi Khanza-shi. Oiya apakah Anda sibuk? Bagaimana kalau kita ke kafe dan ngobrol-ngobrol sebentar ?”
Aku agak ragu untuk menerima ajakannya. Bagaimanapun juga ia tetaplah orang asing. Seolah bisa membaca apa yang ku pikirkan, ia tertawa kecil.
“Tenang saja. Saya tidak akan berbuat macam-macam. Apa saya terlihat seperti itu ?”
Hmm ia sepertinya pria yang baik. Buktinya ia sangat bertanggung jawab saat di bandara itu. Ku putuskan untuk menerima ajakannya.
“Dilihat dari wajah, sepertinya usia kita tidak jauh berbeda.”
Dalam hati aku berpikir beraninya orang ini bicara soal usia pada gadis yang baru di kenalnya. Namun, dengan bodohnya aku menjawab pertanyaannya itu.
“18 tahun.”
“Benarkah. Aku setahun lebih tua darimu. Itu artinya aku tidak perlu menggunakan bahasa formal. Melelahkan sekali kalau harus terus menerus menggunakan bahasa formal. Bukankah dengan seperti ini kita akan bisa lebih akrab?”
Uhuk. Aku terbatuk mendengar perkataannya itu. Akrab? Sebenarnya apa yang orang ini mau dariku?
“Kau ingin lebih akrab denganku? Aku tidaklah semudah itu,” sahutku dengan nada sedikit bercanda. Anehnya aku selalu menanggapi setiap perkataan yang ia lontarkan meski ia mengutarakannya dengan nada bercanda. Jujur saja aku suka alur pembicaraan seperti ini.
“Kalau aku boleh tau apa tujuanmu kali ini datang ke Korea? Aku yakin pasti bukan untuk berlibur.”
Aku pun menceritakan segala hal tentang tujuan ku datang ke Korea setahun yang lalu dan saat ini. Aku bahkan menceritakan bagaimana aku bisa berbahasa Korea dan ketertarikan ku yang sangat besar dalam bidang musik. Semakin lama aku bercerita, mata Seongjae semakin terlihat melebar. Ia seolah sangat tertarik pada ceritaku. Tapi tunggu dulu. Setelah ku pikir-pikir, bukankah aku terlihat terlalu terbuka pada orang yang baru saja ku kenal?
“Wow. Kau pasti orang yang sangat hebat Khanza-ya. Aku tidak tau kau akan percaya ini atau tidak, tapi tidak lama lagi aku juga akan segera debut sebagai boyband. Aku harap kau mau mendengar musik kami dan siapa tau kau mau bekerja sama dalam membuat lagu kami,” ucapnya serius. Tak terlihat sedikitpun tanda bahwa ia berbohong.
“Dengan senang hati.”
“Saat aku sudah debut nanti, kau harus mendengarkannya dan memberi pendapatmu.”
“Iya iya. Dasar cerewet.”
Sejak pertemuan saat itu, Seongjae dan aku secara tak sengaja memulai hubungan pertemanan. Aku suka dengan sikapnya yang ceria, easygoing. Lagipula aku juga tak punya siapapun yang bisa ku ajak bicara santai selain dirinya saat aku berada di Korea.
Oiya aku hampir melupakan tujuan utamaku datang ke Korea. Baiklah akan kulanjutkan ceritaku tentang itu. Agensi Kang Junu menyukai karya ku dan bahkan mereka ingin mengontrakku sebagai salah satu composer tetap mereka. Hati siapa tak senang saat kamu ditawari bekerja di bawah atap yang sama bersama seseorang yang selama ini hanya bisa kamu lihat dalam layar laptop. Setelah diskusi yang cukup panjang dengan kedua orang tuaku, aku pun diizinkan untuk tinggal Korea sekaligus melanjutkan kuliah disana.
Aku pun semakin sering bertemu dengan Seongjae meski hanya sebentar karena ia sekarang sangat sibuk dengan aktivitasnya sebagai artis. Anehnya, setiap kali bertemu kami tak pernah kehabisan cerita dan ia tak pernah absen membuat lelucon yang bisa membuatku tertawa. Asal kalian tahu saja, hidup negeri orang tidaklah mudah dan Seongjae selalu punya cara untuk menghiburku
Semakin lama, aku merasa ada yang salah dengan diriku. Aku merasakan sesuatu yang tak seharusnya ku rasakan. Aku jatuh cinta. Dengan segala perlakuan Seongjae terhadapku, aku jatuh cinta. Banyak alasan mengapa aku tak boleh jatuh cinta padanya. Aku telah memiliki seseorang yang sudah lama bersama denganku bahkan sebelum aku bertemu Seongjae.
Hari ini ia tiba-tiba datang. Dia pasti tahu pergulatan batin yang kurasakan. Dan dari bibirnya terlontar semua perkataan yang seolah menampar diriku.
“De, kakak ga akan pernah marah dengan apapun keputusan yang akan kamu ambil asal kamu bahagia.”
Ingatanku kini kembali ke masa sekarang. Tanpa sadar aku telah menuliskan banyak hal. Ku letakkan pena dan buku harianku, ku rebahkan tubuhku, biarlah keputusan itu aku pikirkan besok. Hari ini aku sudah cukup lelah.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adegan Terakhir

            Saat ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Ada saat dimana cinta datang tiba-tiba, ada pula saat dimana cinta pergi tiba-tiba. Kita hanya bisa menunggu bagaimana sang waktu akan membawa kita.             “Minha, manajer minta ketemu sama kamu sekarang.”             “Sekarang? Hari ini aku kan libur?”             “Duh... cepetan deh kesini. Dia bilang ada tawaran bagus.”             “Iya deh. Aku kesana se...”             Tut...tut...             “Kebiasaan banget orang ini.”             Malas-malasan Minha bangun dari te...