Pertemuan singkatku
dengan Seongjae ku anggap sebagai hal yang tak terlalu penting untukku. Setahun
kemudian aku datang lagi ke Korea. Agensi musik Kang Junu menyukai gaya
bermusik ku. Tahun ini pun aku diminta datang kembali untuk sebuah project yang sedikit lebih besar dari
sebelumnya. Kali ini tidak ada yang menjemputku karena aku merasa sudah tau
jalan kesana dan aku juga ingin jalan-jalan sebentar.
Ku telusuri
jalan-jalan di pusat kota Seoul. Sebenarnya tujuanku hanya satu. Membeli CD
asli beberapa artis idolaku. Apakah aku berlebihan? Tidak. Bagi pencinta musik
membeli CD asli adalah suatu keharusan.
Ku masuki salah satu
toko CD yang menurut info dari Yoomi adalah yang terlengkap di Seoul. Saat aku
tengah mencari album lawas TVXQ, seseorang tiba-tiba memanggilku.
“Khanza-shi?”
Aku sedikit terkejut
mendengarnya. Saat ku melihatnya, aku merasa mengenal dirinya tapi aku lupa
dimana aku pernah bertemu dengannya.
“Kita pernah bertemu
di bandara.”
“Seongjae-shi?”
“Senang bertemu dengan
Anda lagi Khanza-shi. Oiya apakah Anda sibuk? Bagaimana kalau kita ke kafe dan
ngobrol-ngobrol sebentar ?”
Aku agak ragu untuk
menerima ajakannya. Bagaimanapun juga ia tetaplah orang asing. Seolah bisa
membaca apa yang ku pikirkan, ia tertawa kecil.
“Tenang saja. Saya
tidak akan berbuat macam-macam. Apa saya terlihat seperti itu ?”
Hmm ia sepertinya pria
yang baik. Buktinya ia sangat bertanggung jawab saat di bandara itu. Ku
putuskan untuk menerima ajakannya.
“Dilihat dari wajah,
sepertinya usia kita tidak jauh berbeda.”
Dalam hati aku
berpikir beraninya orang ini bicara soal usia pada gadis yang baru di kenalnya.
Namun, dengan bodohnya aku menjawab pertanyaannya itu.
“18 tahun.”
“Benarkah. Aku setahun
lebih tua darimu. Itu artinya aku tidak perlu menggunakan bahasa formal.
Melelahkan sekali kalau harus terus menerus menggunakan bahasa formal. Bukankah
dengan seperti ini kita akan bisa lebih akrab?”
Uhuk. Aku terbatuk
mendengar perkataannya itu. Akrab? Sebenarnya apa yang orang ini mau dariku?
“Kau ingin lebih akrab
denganku? Aku tidaklah semudah itu,” sahutku dengan nada sedikit bercanda.
Anehnya aku selalu menanggapi setiap perkataan yang ia lontarkan meski ia
mengutarakannya dengan nada bercanda. Jujur saja aku suka alur pembicaraan
seperti ini.
“Kalau aku boleh tau
apa tujuanmu kali ini datang ke Korea? Aku yakin pasti bukan untuk berlibur.”
Aku pun menceritakan
segala hal tentang tujuan ku datang ke Korea setahun yang lalu dan saat ini.
Aku bahkan menceritakan bagaimana aku bisa berbahasa Korea dan ketertarikan ku
yang sangat besar dalam bidang musik. Semakin lama aku bercerita, mata Seongjae
semakin terlihat melebar. Ia seolah sangat tertarik pada ceritaku. Tapi tunggu
dulu. Setelah ku pikir-pikir, bukankah aku terlihat terlalu terbuka pada orang
yang baru saja ku kenal?
“Wow. Kau pasti orang
yang sangat hebat Khanza-ya. Aku
tidak tau kau akan percaya ini atau tidak, tapi tidak lama lagi aku juga akan
segera debut sebagai boyband. Aku harap kau mau mendengar
musik kami dan siapa tau kau mau bekerja sama dalam membuat lagu kami,” ucapnya
serius. Tak terlihat sedikitpun tanda bahwa ia berbohong.
“Dengan senang hati.”
“Saat aku sudah debut
nanti, kau harus mendengarkannya dan memberi pendapatmu.”
“Iya iya. Dasar
cerewet.”
Sejak pertemuan saat
itu, Seongjae dan aku secara tak sengaja memulai hubungan pertemanan. Aku suka
dengan sikapnya yang ceria, easygoing.
Lagipula aku juga tak punya siapapun yang bisa ku ajak bicara santai selain
dirinya saat aku berada di Korea.
Oiya aku hampir
melupakan tujuan utamaku datang ke Korea. Baiklah akan kulanjutkan ceritaku tentang
itu. Agensi Kang Junu menyukai karya ku dan bahkan mereka ingin mengontrakku
sebagai salah satu composer tetap mereka. Hati siapa tak senang saat kamu
ditawari bekerja di bawah atap yang sama bersama seseorang yang selama ini
hanya bisa kamu lihat dalam layar laptop. Setelah diskusi yang cukup panjang
dengan kedua orang tuaku, aku pun diizinkan untuk tinggal Korea sekaligus
melanjutkan kuliah disana.
Aku pun semakin sering
bertemu dengan Seongjae meski hanya sebentar karena ia sekarang sangat sibuk
dengan aktivitasnya sebagai artis. Anehnya, setiap kali bertemu kami tak pernah
kehabisan cerita dan ia tak pernah absen membuat lelucon yang bisa membuatku
tertawa. Asal kalian tahu saja, hidup negeri orang tidaklah mudah dan Seongjae
selalu punya cara untuk menghiburku
Semakin lama, aku
merasa ada yang salah dengan diriku. Aku merasakan sesuatu yang tak seharusnya
ku rasakan. Aku jatuh cinta. Dengan segala perlakuan Seongjae terhadapku, aku
jatuh cinta. Banyak alasan mengapa aku tak boleh jatuh cinta padanya. Aku telah
memiliki seseorang yang sudah lama bersama denganku bahkan sebelum aku bertemu
Seongjae.
Hari ini ia tiba-tiba
datang. Dia pasti tahu pergulatan batin yang kurasakan. Dan dari bibirnya
terlontar semua perkataan yang seolah menampar diriku.
“De, kakak ga akan
pernah marah dengan apapun keputusan yang akan kamu ambil asal kamu bahagia.”
Ingatanku kini kembali
ke masa sekarang. Tanpa sadar aku telah menuliskan banyak hal. Ku letakkan pena
dan buku harianku, ku rebahkan tubuhku, biarlah keputusan itu aku pikirkan
besok. Hari ini aku sudah cukup lelah.
***

Komentar
Posting Komentar