Langsung ke konten utama

Adegan Terakhir


            Saat ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Ada saat dimana cinta datang tiba-tiba, ada pula saat dimana cinta pergi tiba-tiba. Kita hanya bisa menunggu bagaimana sang waktu akan membawa kita.
            “Minha, manajer minta ketemu sama kamu sekarang.”
            “Sekarang? Hari ini aku kan libur?”
            “Duh... cepetan deh kesini. Dia bilang ada tawaran bagus.”
            “Iya deh. Aku kesana se...”
            Tut...tut...
            “Kebiasaan banget orang ini.”
            Malas-malasan Minha bangun dari tempat favoritnya. Ia jarang sekali mendapatkan waktu libur. Baginya waktu libur adalah barang langka yang tidak mudah ia dapatkan. Kesibukannya sebagai public figure memaksa ia untuk mengorbankan waktunya. Pun dengan hari itu. Rasanya baru saja ia mendapat kabar gembira bahwa ia diperbolehkan libur, si manajer menyuruhnya datang. Huft menyebalkan, batin Minha.
            Kafe tempat pertemuan Minha dan manajernya terletak di lobi kantor. Suasana lobi kantor yang ramai membuat Minha semakin pusing. Hampir satu jam ia menunggu. Namun, sosok yang ditunggunya belum muncul juga. Tahu begini lebih baik di rumah, batin Minha.
            “Maaf ya Min, aku terlambat.”
            “Maaf-maaf. Emangnya maaf kamu bisa mengganti satu jam ku yang terbuang sia-sia?” sahutnya sedikit emosi
            “Iya aku tahu. Kan udah minta maaf.”
            “Cepetan, mba Rina bilang kamu punya tawaran bagus. Tawaran apa?”
            “Kamu ditawari main film sejarah. Keren kan?” ujarnya semangat
            “Film sejarah? Gak mau ah. Ntar ada sihir-sihirnya lagi.”
            “Ini bukan sembarang film. Gak ada sihir sama sekali. Coba deh kamu baca ceritanya dulu. Lusa kamu harus udah punya keputusan. Oke?”
            Minha sama sekali tidak tertarik dengan drama atau film yang berhubungan dengan sejarah. Baginya semua itu tak masuk akal. Tapi kenapa manager bilang ga ada sihirnya ya?, batin Minha

***

            Lagu Coldplay “Viva la Vida” mengalun nyaring. Suara itu mengagetkan Samir yang tengah sibuk melakukan kewajibannya di pagi hari.
            “Duh, siapa sih yang nelpon pagi begini? Ganggu orang aja.”
            “Halo. . . lama banget sih ngangkat telponnya.”
            “Aku lagi sibuk, mba. Ngapain sih nelpon pagi begini?”
            “Pulang sekolah kamu datang ke kantor ya. Mba punya tawaran bagus.”
            “Ya ampun mba, kalo cuma kayak gitu kan bisa sms.”
            “Nelpon itu lebih efektif tau. Ya udah mba tutup dulu ya. Bye.”
            Menjadi selebritis di usia muda tidaklah mudah. Hal itulah yang dirasakan Samir. Ia tahu betul bagaimana rasanya. Ia harus pintar membagi waktu. Bahkan terkadang ia harus belajar di tengah kesibukan syuting.
            Sepulang sekolah
            “Tumben kamu terlambat.”
            “Maaf mba. Tadi aku ada ulangan susulan.”
            “Langsung ke intinya aja. Kamu ditawari main di film sejarah. Menurutku sih ceritanya menarik.”
            “Aku gak mau. Pasti nanti ceritanya gak masuk akal dan melenceng.”
            “Baca dulu baru ngomong. Lusa kamu udah harus ngasih kepastian. Oke?”
            “Iya deh. Ya udah mba aku pulang dulu. Capek banget nih.”
            Samir hanya sesekali melirik kertas tebal itu. Tak ada niat sedikitpun untuk menyentuh kertas itu. Sejauh ini film sejarah yang ia tonton hanyalah tipuan dan rekayasa semata. Tapi kenapa mba Ai nyuruh dibaca dulu ya? Dia kan tahu banget karakterku, batin Samir.

***

            Minha memacu mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ia terlihat buru-buru. Bahkan ia sampai lupa membawa tas “harta karunnya”. Yang ia bawa hanyalah setumpuk kertas.
            “Duh sorry banget ya. Aku lupa kalo hari ini batas akhir ngasih keputusan.”
            “Dari kemarin kemana aja neng?”
            “Di rumah lah. Kamu kok ga bilang sih kalo film sejarahnya itu beda dari yang lain.”
            “Aku kan udah nyuruh kamu buat baca dulu. Jadi kamu mau terima tawaran itu atau menolak?”
            “Emm gimana ya?”
            “Ayolah, Min. Ini kesempatan bagus buat kamu.”
            Oke aku terima. Kapan aku bisa bertemu sutradara?”
            “Setelah lawan mainmu mengonfirmasi tawaran ini.”

***

            Jam sudah menunjukkan pukul 14:30. Namun, Samir masih terjebak di sekolah. Dia harus mengikuti berbagai ulangan susulan dan jam tambahan. Resiko yang harus ia terima karena sering cuti akibat sibuk syuting. Setengah jam lagi ia harus sudah sampai kantor. Tapi sepertinya guru itu belum mau berhenti bicara. 30 menit, 40 menit, 45 menit, akhirnya semua berakhir. Segera ia merogoh sakunya dan jarinya pun mulai menari di atas tombol.
            “Mba Ai, maaf kalo aku datang terlambat. Sebentar lagi akau sampai.”
            Di kantor
            “Kamu dah buat keputusan?”
            “Ya ampum mba, duduk aja belum udah ditanyain.”
            “Maaf-maaf. Silahkan duduk.”
            “Mba Ai tuh keterlaluan ya. Kenapa ga bilang dari awal kalo film sejarahnya ga kayak yang aku tonton.”
            “Mba udah nyuruh kamu baca kan? Jangan menilai sesuatu hal yang belum kamu kenal.”
            “Ceritanya bagus. Jadi kapan aku bisa bertemu sutradara?”
            “Kamu terima tawaran itu? Oke emm... setelah lawan mainmu juga menerima tawaran itu.”
***
            Film sejarah yang akan diperankan Minha dan Samir memang berbeda dari yang lain. Film ini diadaptasi dari sebuah novel fiksi yang bercerita tentang kisah cinta dua manusia di era Majapahit, dimana kedua keluarga itu saling bermusuhan sehingga mereka berdua tak bisa bersatu. Walau ini hanya rekaan, latar belakang yang digunakan adalah era Majapahit. Sehingga manajer mereka mengatakan bahwa itu “film sejarah”.

***

            Minha, Samir, dan sutradara telah sepakat bertemu di Kafe Cojej. Letaknya tak jauh dari kantor management mereka. Sutradara merasa senang karena kedua artis berbakat itu mau bermain dalam filmnya. Samir sampai terlebih dahulu dan Minha baru tiba 15 menit kemudian.
            “Sekarang semuanya sudah datang. Silahkan duduk, Minha. Saya harap kalian berdua saling mengenal terlebih dahulu. Karena saya menginginkan chemistry yang tidak dibuat-buat.”
            “Lalu kapan kita mulai syuting?” tanya Minha
            “Rencana bulan depan karena Samir harus menyelesaikan tugas sekolahnya.”
            “Terima kasih sudah mengerti posisi saya.”
            “Ah kalau begitu saya permisi dulu. Ingat kalian harus saling mengenal.”
            Minha dan Samir hanya saling menatap tanpa berkata. Entah kenapa mulut mereka terasa kelu.
            “Emm... hai.” sahut Samir memulai
            “Hai juga.”
            “Kok tiba-tiba aku canggung gini ya? Ini bukan tipe aku banget.” batin Minha
            “Mungkin sutradara bener kalau kita harus saling kenal dulu.”
            “Iya juga sih. Belum apa-apa dah malu gini.”
            “Oiya gimana kalau kita tukeran nomor hp. Biar lebih gampang komunikasinya.
            Minha mengangguk tanda setuju.
***
            Selama satu bulan penuh Minha dan Samir berusaha saling mengenal kepribadian masing-masing. Tidak hanya berkomunikasi lewat telepon, mereka juga sering bertemu. Bahkan sesekali Minha membantu Samir menyelesaikan tugas sekolahnya.
            “Kak, sebenernya aku penasaran nih. Emmm... kakak itu orang Korea ya?”
            “Emang aku ada tampang orang Korea?”
            “Minha itu nama Korea kan? Aku sering liat di beberapa drama.”
            “Bukan. Itu nama singkatan. Nama asliku Minanda Hapsari. Menurut manajer kalau disingkat lebih bagus. Jadilah nama Minha. Apa Samir juga nama asli.”
            “Jelas bukan lah. Namaku Amir Handoyo. Aku ga tau gimana sejarahnya mba Ai menambah huruf S.”
            “Biar hoki mungkin. Manajer kita ternyata lucu dan aneh ya.”
            Melihat Minha tertawa, hati Samir mendadak bergetar. Minha terlihat sangat manis saat tertawa, begitu pikir Samir
            “Besok mulai syuting kan?” sahut Minha membuyarkan lamunan Samir
            “Eh iya kak.”
            “Kita harus menampilkan yang terbaik. Jangan sampai sutradara ngomel gara-gara chemistry yang ga pas.”
            Samir hanya mengangguk

***

            Syuting pun dimulai. Selama proses syuting, Minha dan Samir tak terlihat canggung sedikitpun. Bahkan adegan romantis dilakoni tanpa cacat. Menurut sutradara chemistry mereka terlihat sangat nyata.
            “Kayaknya sutradara puas dengan akting kalian. Jangan-jangan kalian beneran pacaran.”
            “Apaan sih. Aku dan Samir cuma temen aja kok. Samir itu udah kayak adikku sendiri.”
            Tanpa mereka mengetahui, pembicaraan tersebut didengar Samir. Ia sedikit sedih karena hanya dianggap sebagai adik. Ia ingin sesuatu yang lebih. Ia pun menatap Minha. Namun, tiba-tiba Minha memandang ke arahnya. Ia pun segera menghindar dan pergi.
            “Kamu kemana aja, Sam. Ini pesananmu.”
            “Makasih mba. Oh iya aku boleh nanya sesuatu ga?”
            “Boleh.”
            “Salah ga sih kalau seorang cowok suka sama cewek yang lebih tua?”
            “Dalam cinta tidak ada yang salah. Emangnya kamu suka sama seseorang? Siapa? Minha ya?”
            “Tapi kayaknya dia ga cinta sama aku. Aku lebih cocok jadi adiknya.

***

            Film yang dibintangi Minha dan Samir terbilang sukses di pasaran. Penonton sangat menyukai alur yang disuguhkan sang sutradara. Tak hanya itu, penonton juga menyukai emosi peran yang dimainkan keduanya. Banyak yang mengharapkan kisah cinta mereka terjadi di dunia nyata. Sebenarnya, Minha juga mengharapkan hal yang sama. Sedikit demi sedikit hatinya mulai terisi oleh Samir. Namun, sampai detik ini Samir belum juga menyatakan perasaanya. Ia sudah terlalu menunggu hingga akhirnya memutuskan membuang jauh perasaan tersebut.
            Beberapa bulan kemudian
            Samir tengah makan siang bersama manajernya. Pandangannya tiba-tiba berhenti ketika melihat dua orang berjalan ke arahnya.
            “Hai, Sam. Lama ga ketemu ya?”
            “Gak juga kok. Ini siapa kak?”
            “Kenalkan ini Johan. Dia pacar aku.”
            Suara Samir tercekat dan kakinya mendadak bergetar. Mba Ai yang menyadari kejadian itu menepuk bahu Samir, berusaha menenangkan.
            “Halo nama saya Johan.” Katanya sambil mengulurkan tangan
            “Samir. Sejak kapan kalian jadian?”
            “sekitar satu bulan yang lalu.”
            “Selamat ya kak. Semoga hubungan kalian awet.”
            Sebenarnya Samir tidak ikhlas mengatakan itu semua. Perasaannya hancur melihat kenyataan ini. Ia menatap Minha dan kekasihnya dengan tatapan sedih. Ia pun tertunduk lesu. Tanpa diketahui Samir, Minha juga menatapnya dengan tatapan yang sama. Maafkan aku Samir, aku tidak bisa kalau harus terus menunggumu, batin Minha.
            “Udahlah, Sam. Jangan sedih lagi.”
            “Apa aku harus senyum kalau lagi patah hati?”
            “Lagian kamu juga yang salah. Kamu kenal Minha sudah hampir satu tahun. Tapi selama itu kamu cuma diam dan ga menyatakan perasaanmu. Bandingkan dengan Johan, baru beberapa bulan dia kenal Minha tapi dia berani menyatakan perasaannya.”
            “Jangan samakan aku dengan dia. Usia Johan diatas Minha, jelas aja dia berani. Sedangkan aku lebih muda dari Minha.”
            “Apa usia begitu mengganggumu? Kamu ga akan tahu isi hati Minha sebelum kamu mengutarakan isi hatimu.”
            “Mba Ai ga perlu nasihatin aku.”
            “Terserah deh. Capek ngomong sama anak kecil.”

***

            Pertemuan siang tadi membuat Minha tidak nyaman. Ia tiba-tiba ragu dengan perasaannya sendiri. Apa benar ia mencintai Johan? Atau Johan hanya dijadikannya pelarian?
Sam, aku tahu kamu mencintaiku. Andai kamu tahu aku juga memiliki perasaan yang sama. Apakah kamu berani mengungkap isi hatimu? Aku sudah memberimu banyak waktu, tapi kamu tak bisa memanfaatkannya. Ku mohon lupakan aku, Sam. Jangan sakiti hatimu dengan tetap mencintaiku.
            Ia pun menutup buku hariannya dan menghempaskan diri ke ranjangnya.
            Di tempat lain, Samir juga memikirkan hal yang sama. Ia sadar apa yang dikatakan mba Ai ada benarnya. Harusnya  ia lebih berani lagi. Ditatapnya sebuah amplop yang tergeletak di meja.
            Kurasa sudah saatnya aku melupakan Minha. Aku ga bisa terus-menerus terjebak dalam rasa sakit ini. Aku tidak mungkin mengharapkan sesuatu yang bukan milikku, batin Samir.
            Amplop tersebut dibukanya dan ia menghela nafas mencoba menguatkan diri.

***

            “Kamu udah yakin dengan keputusan itu?
            “Seratus persen yakin.”
            “Jangan bilang ini semua karena Minha.”
            “Dia ga ada kaitannya sama sekali. Udahlah mba ga usah bahas dia.”
            “Oke deh buat yang lagi move on.

***

            “Kak, hari ini sibuk ga?” telfon Samir
            “Ga juga. Kenapa?”
            “Kita ketemu di tempat biasa. Ada hal penting yang harus aku omongin.”
            “Tentang apa?”
            “Kita omongin nanti aja. Sampai ketemu.”
            “Sam... halo... putus lagi.”
            Tidak biasanya Samir begini. Kalau memang ada sesuatu yang ingin Samir bicarakan, biasanya dia akan memberitahu Minha dahulu sebelum bertemu. Minha heran hal sepenting apa sampai Samir harus merahasiakannya. Ia pun segera ke sana. Setibanya di sana, ternyata Samir telah sampai dulu. Kelihatannya ia telah menunggu cukup lama.
            “Apa aku terlambat?”
            “Ga juga kok.”
            “Bohong. Buktinya dua gelas udah kosong.”
            “Aku minta kakak kesini bukan buat ngomongin gelas. Ini serius.”
            “Oke-oke. Emang ada apa?”
            “Aku mau pergi ke Berlin. Rencananya mau ngelanjutin kuliah disana.” ucapnya sambil menghela nafas.
            Raut wajah Minha mendadak berubah. Ia masih belum percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
            “Berlin? Di Indonesia banyak sekolah bagus. Kenapa harus Berlin?”
            “Ini permintaan ayah. Sebagai anak lelaki satu-satunya, aku ga mau mengecewakan ayah.”
            “Kapan rencananya kamu ke sana?”
            “Minggu depan.”
            “Cepet banget ya.” Ucapnya sambil senyum tipis
            “Aku cuma pergi untuk sementara waktu. Sebelum pergi, aku berikan kalung ini buat kamu.” ucapnya sambil memberikan kalung berbentuk peluit. Minha tahu betul itu adalah kalung kesayangan Samir pemberian ayahnya,
            “Kalung ini sudah sepenuhnya milikmu. Terserah mau kamu pakai atau cuma disimpan.” lanjutnya.
            “Aku ga ngerti maksud kamu.”
            “Kamu pasti akan tahu. Aku permisi dulu ya. Masih banyak yang harus aku siapkan.”
            Minha menatap Samir dengan perasaan tak menentu. Ia sedih Samir akan pergi tapi disisi lain ia bingung dengan maksud Samir. Untuk apa ia meberikan kalung itu?

***

            Samir tengah bersiap-siap berangkat menuju Berlin. Keluarga dan manajernya telah berkumpul di bandara untuk mengantar kepergiannya. Namun, orang yang paling ditunggu Samir tak kunjung datang. Siapa lagi kalau bukan Minha. Sepuluh menit lagi pesawatnya akan segera lepas landas.
            “Selama di sana jaga diri baik-baik ya. Jangan lupa shalat. Bunda juga titp salam buat ayahmu ya.”
            “Iya bun. Pasti nanti aku sampaikan. Mba Ai tolong jaga Bunda ya.”
            “Pasti.”
            “Sampai jumpa.” Ucapnya sambil melambaikan tangan.
            Tak jauh dari sana, Minha hanya bisa berdiri dalam diam. Kalung yang Samir berikan dipegangnya dengan erat. Dalam hati ia berkata, Aku tahu kalung ini melambangkan hatimu. Menyerahkan kalungmu sama artinya dengan menyerahkan hatimu. Kamu bahkan tak peduli dengan jawabanku. Pada akhirnya kisah kita sama seperti dalam film yang kita mainkan. Saling mencintai tanpa saling memiliki. Ia pun meyeka air matanya dan pergi.


--THE END--

Komentar