Langsung ke konten utama

Cinta Puncak Monas


            “Eh, tahun baruan pada punya rencana apa nih?’ tanya Anum
            “Gue mau pulang kampung ke Garut. Cewek gue udah kangen berat.” Sahut Umar
            “Gue sih disini aja. Dita ngajak gue ke rumahnya. Katanya sih mau dikenalin sama bokapnya. Canggih kan. Kalo lo, Num?” ucap Farhan
            “Gue mau candle light dinner sambil liat kembang api di atas langit luas.” Ujarnya sok romantis.
            Davi mendengarkan percakapan itu dengan muka kusut. Cuma dia yang belum punya pacar di geng Chaton. Ia pun meratapi nasibnya yang masih JS alias Jomblo Sengsara.
            “Dav, jangan kusut gitu dong. Muka lo keliatan serem.” Ujar Anum
            “Gue pusing ndengerin omongan kalian.”
            “Bikin resolusi dong biar ga jomblo terus.”
            “Maksud lo?”
            “Maksud gue, lo harus nembak Alisa. Ntar keburu digebet orang.”
            Alisa. Ah, gadis itu. Sudah hampir setahun hati Davi dipenuhi oleh bayangannya. Tetangga barunya itu telah membuat Davi percaya akan pepatah “Cinta pada Pandangan Pertama.” Tutur katanya, sikapnya, akhlaknya sangat sempurna di mata Davi.
            Tiba-tiba HP Davi berbunyi. Sesaat setelah membaca pesan singkat itu, ia buru-buru pergi.
            “Mau kemana lo?” tanya Umar
            “Ada urusan penting. Assalamualaikum.”
            “Wa’alaikumussalam.” Jawab geng Chaton kompak.
            Sebelum sampai tujuan, Davi menyisir rambutnya biar kelihatan oke. Sampai di taman, ia celingukan mencari seseorang.
            “Kak Davi.” Seru seseorang
            “Hai Al.” Balas Davi sambil menoleh ke belakang.
            “Besok kak Davi sibuk ngga?”
            “Ngga tuh. Kenapa?”
            “Alisa mau ngajak kak Davi jalan.”
            Davi melongo mendengar ajakan Alisa. Gue ngga salah denger kan? batin Davi.
            “Kak Davi ngga mau ya?”
            “Siapa bilang? Apapun yang kamu minta pasti aku kabulkan.”
            “Kalau gitu besok kak Davi jemput Alisa ya di sekolah. Bye.”
            Hari yang ditunggu tiba. Davi sudah bersiap di depan gerbang sekolah Alisa. Ia gugup saat melihat gadis mungil itu berlari kecil menghampirinya.
            “Ayo jalan.” Ucap Alisa sambil menggandeng tangan Davi.
            Malamnya geng Chaton kumpul di rumah Davi.
            “Gimana kencan pertama lo?” tanya Farhan
            “Krupuk.”
            “Maksud ente?”
            “Iya krupuk. Garing. Ternyata si Alisa ngajak gue jalan cuma buat manas-manasin mantannya. Dia mau ngebuktiin kalo dia udah ngelupain mantannya itu. Bete gue.”
            “Lo mau nyerah ngejar Alisa?”
            “Ga ada istilah menyerah di kamus otak gue. Lo liat aja nanti.” Sahut Davi penuh arti.
            Tahun baru semakin dekat. Semua orang kelihatan sibuk. Geng Chaton juga sibuk mempersiapkan acaranya masing-masing. Umar udah beres-beres mau pulang kampung. Farhan sibuk belajar ngomong sopan biar terkesan cowok baik-baik. Anum sibuk survey lokasi yang cocok buat candle light dinnernya. Sementara Davi, dia bolak-balik ke Monas. Usut punya usut, ternyata si Alisa pengen tahun baruan di Monas. Info penting ini ia dapat dari bang Janu, kakak Alisa.
            “Gue bakal ngasih kejutan ke Alisa. Gue yakin dia bakal klepek-klepek sama gue. Lo semua liat aja nanti. Kejutan ini pasti bakalan jadi trend.”
            Geng Chaton saling pandang. Tak tahu apa maksud Davi.
            Di rumah Alisa
            “Alisa udah punya rencana tahun baruan belum?”
            “Belum.”
            “Err. . gini kakak mau ngajak kamu nonton konser di Monas. Denger-denger sih konsernya bakal megah.”
            Raut wajah Alisa berubah gembira. “Alisa mau ikut dong. Udah lama nih pengen ke Monas.”
            “Oke kalau gitu besok malam kakak tunggu ya.”
            Suasana Monas padat merayap. Jalananpun jadi ikut macet. Davi yang awalnya good mood mendadak jadi bad mood. Untung ada Alisa. Kata-katanya bikin Davi damai. Senyumnya, aih, ga usah dijelasin deh.
            Syukurlah mereka tiba tepat waktu. Konsernya masih lama dimulai. Davi emang sengaja pergi lebih awal. Sambil ngajak Alisa keliling Monas, satu per satu stand yang ada di Monas mereka masuki. Sampai akhirnya mereka tiba di satu stand yang kelihatan berbeda dari yang lain. Di stand itu siapapun boleh mengekspresikan dirinya melalui lagu. Panggung kecil telah dipersiapkan. Hanya dengan 10 ribu, siapapun bisa berekspresi. Alisa terlihat sangat antusias.
            “Al, aku ke toilet bentar ya. Udah ga tahan nih.”
            “Jangan kelamaan ya kak.”
            15 menit setelah Davi pergi, seorang pria bertopeng naik ke atas panggung. “Lagu ini saya persembahkan untuk seseorang yang sangat spesial. Hai beautiful girl, please hear me.”
            Pemuda itu mulai memetik gitarnya dab terlantunlah sebuah lagu. Alisa sedikit terkejut. Itu adalah lagu dari boyband favoritnya, TVXQ.
            You only love, my love
            Penonton bertepuk tangan. Pemuda itupun membuka topengnya. Alisa semakin terkejut saat tahu Davi yang berada disana.
            “Alisa, aku tulus sayang sama kamu. Will you be my girlfriend?
            Penonton bertukar pandang. Penasaran dengan wanita mana yang dimaksud Davi. Lama tak ada respon. Davi mulai takut. Jangan-jangan Alisa pergi karena malu. Tiba-tiba terdengar suara seseorang menyanyikan lagu yang sama.
            “Alisa.” Ucap Davi lirih
            Sambil menyanyi Alisa mendekati Davi dan membisikkan sesuatu. Mata Davi terbelalak. Langsung dipeluknya gadis itu dan tepuk tangan penonton pun semakin keras. Suara petasan pun semakin meramaikan suasana.

            Mulai sekarang geng Chaton udah bisa kuartet date, batin Davi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adegan Terakhir

            Saat ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Ada saat dimana cinta datang tiba-tiba, ada pula saat dimana cinta pergi tiba-tiba. Kita hanya bisa menunggu bagaimana sang waktu akan membawa kita.             “Minha, manajer minta ketemu sama kamu sekarang.”             “Sekarang? Hari ini aku kan libur?”             “Duh... cepetan deh kesini. Dia bilang ada tawaran bagus.”             “Iya deh. Aku kesana se...”             Tut...tut...             “Kebiasaan banget orang ini.”             Malas-malasan Minha bangun dari te...